ME VS PROFFESOR | Kumpulan Cerpen

Hay sobat Esswe Zone Jumpa lagi di blog ane yang menyediakan kumpulan cerpen-cerpen menarik lainnya....
Cerpen kali ini berjudul "ME VS PROFFESOR"
sebuah Karya dari Anita Nazhifa

***
me vs profesorKiara berjalan santai melewati rak-rak minimarket untuk berbelanja bahan-bahan makanan. Wanita itu segera mengambil beberapa pasta yang merupakan makanan favorit suaminya, dan mengingat suami tampannya membuat Kiara tersenyum lembut serta wajah cantiknya lebih berbinar.
Reaksi itu tak dilewatkan oleh siswi remaja yang kebetulan tetangga Kiara dan sangat mengagumi keharmonisan rumah tangga Kiara.
"Mbak Kiara, selamat pagi."
"Eh Dita, pagi juga," ujar Kiara tersenyum cerah bertemu salah satu tetangganya yang sudah dianggap adiknya.
"Mbak sendiri aja? Masnya mana nih," goda Dita yang sudah tau bagaimana mesra dan bahagianya mereka yang selalu membuat Dita merasa iri dan ingin mempunyai rumah tangga seperti mereka.
"Suami mbak baru aja menghadiri seminar di luar kota dan membuatnya kelelahan jadi sedang tidur sekarang," jawab Kiara saat mereka berdua membayar belanjaan mereka di kasir.
"Mbak, setelah ini mampir sebentar ke kafe untuk minum dan ngobrol bisa gak mbak?"
"Ngobrol apa?"
"Tentu saja kisah mbak dan sang suami tercinta, Dita kan udah pernah tanya."
Seketika kata-kata itu membuat Kiara tertawa kecil, cerita mengenai kisah mereka? Itu merupakan rahasia lucu yang akan menjadi kenangan terindah untuknya...
"Kamu penasaran ya bagaimana kisah kami?
"Iya lah mbak, gimana gak penasaran melihat Mas Leo begitu romantis dan menyayangi mbak."
"Romantis ya? Kamu akan kaget kalau kamu mau dengar kisah mbak."
"Maksud mbak?"
Kiara tersenyum geli dan mulai menceritakan kisahnya, sebuah kisah unik yang membuat Dita terbelalak lebar tak percaya.
Sebenrnya Kiara masih tak percaya lagi kisah unik mereka mampu membawa menuju jenjang pernikahan.
_________
Aku memasuki kelas Pengantar Akuntansi dengan kepala yang sedikit berat.
Karena kebiasaanku yang keasyikan membaca tidak tepat waktu, membuatku harus begadang semalaman.
Dilihat dari kebiasaanku ini, mudah sekali menganalis sifat burukku. Tak bisa mengatur waktu dan ceroboh adalah ciri khasku, dan tentu saja aku tak bangga dengan itu.
Saat ini aku sedang mengitari pandanganku untuk mencari bangku, dan sialnya hanya tersisa di depan meja dosen yang tampak cantik tak sudi diduduki.
Oke tak masalah, toh yang menjadi dosen mata kuliah yang paling kubenci -yah motto baruku di kampus adalah I HATE AKUNTANSI- ini adalah Ibu Irina, Dosen baik hati yang selalu ikhlas memberikan mahasiswa nilai-nilai yang indah.
Karena itulah aku mau mengulang dan bernostalgia dengan mata kuliah neraka ini di semester yang ke tujuh!
Silahkan kalau ingin tertawa.....
Aku mengeluarkan earphoneku dan mulai mendengarkan lagu-lagu Taylor Swift penyanyi favoritku, menutup mata sambil mengikuti irama.
Dosen yang datang terlambat adalah moment yang paling disukai setiap mahasiswa.
Saat diriku sedang tenggelam oleh irama lagu, kurasakan seseorang menepuk lenganku dan menunjuk ke arah luar kelas menandakan akan kedatangan dosen.
Aku segera menyimpan earphoneku dan menyiapkan bahan-bahan materi, tapi kegiatanku terhenti begitu saja dan menatap horor.
Sesosok makhluk yang penuh wibawanya memasuki kelas.
Laki-laki yang berdiri di hadapanku ini memiliki profil yang memikat, sempurna, dan layak
diterima di agency-agency hiburan.
Seseorang yang bahkan tak akan kau percayai bahwa dia adalah seorang professor muda yang diusianya saat ini memasuki 31 tahun.
Begitu juga aku kini tak percaya dia berdiri di hadapanku, dosen yang menjadi musuh utamaku di kampus ini.
Oke pasti banyak yang menjudgeku mencari perhatian karena membenci salah satu dosen idola. Tapi jika kalian berada di posisiku, kalian pasti maklum kenapa aku membencinya.
Dia adalah dosen yang memberikanku nilai D di sebuah mata kuliah yang bernama 'Akuntansi Biaya'
Lihat mengerti kan maksudku, D dan akuntansi sudah cukup membuatku membenci seseorang.
Aku menelan ludahku dengan susah payah melihat proffesor sialan... Errr maksudku Proffesor Wiranata -Leo Wiranata adalah namanya- sedang duduk sambil mengeluarkan berbagai macam kertas.
"Ehmm... Proffesor...."
Seketika hening saat suara panggilan tersebut keluar dari kotak suaraku.
Aku sendiri pun bingung akan keberanianku ini.
Aku mengkerut di bangkuku saat kulihat laki-laki itu mengalihkan tatapannya ke arahku dan memandangku dengan tatapan mengintindimasi. Sepertinya dia sadar bahwa aku mahasiswi yang tak diluluskannya, dan merupakan mahasiwi yang paling tak disukainya -mengingat aku selalu memberikan kesan buruk baginya dua tahun lalu- dan kebetulan juga dia termasuk dosen yang sangat tak kusukai.
Bukan rahasia umum bahwa kami terlibat perang dingin.
"Ya?"
"Errr... Saya ingin bertanya apa anda tidak salah melihat jadwal? Eh... Maksud saya ini kelas I C dengan pembimbing materi adalah Bu Irina, jadi...."
Kelas serasa seperti kuburan karena semua pasang mata memfokuskan perhatiannya padaku, tentu saja tatapan paling tajam adalah yang berada di depanku, dengan alis terangkat sebelah.
Aku semakin mengkerut di bangkuku dan terus melanjutkan.
"Kurasa anda salah mengambil err... Maksud saya keliru mengambil kelas...."
Aku menyesal berbicara seperti ini, seakan-akan aku kembali mengibarkan bendera perang terhadap dirinya.
Tetapi aku tak sudi lagi diajar oleh proffesor keji itu yang dengan tega selalu memberiku tugas tambahan.
"Terima kasih atas peringatannya. Tapi sayang sekali saya tidak keliru memasuki kelas, dan kamu sendiri apa benar tidak keliru mengingat kamu sudah semester 7?"
Uuhh...
Inilah yang membuatku membencinya sama besarnya dengan matakuliahnya.
"Baiklah seperti yang diingatkan KAKAK
SENIOR kita."
Serunya dengan sengaja
menekankan kata kakak senior.
Lihat kan aku dan dia tidak bisa
mengakhiri perang dingin ini, yang ada malah perang nuklir!
"Saya tidak keliru mengambil kelas karena saya di sini menggantikan Bu Irina yang sedang cuti melanjutkan S3 nya di Australie."
Oh Tuhan... Pengganti? Seseorang katakan ini April mop... Siapa saja tolong....
"Dan saya sudah memeriksa nilai-nilai kuis kalian, lumayan walaupun ada beberapa yang perlu perbaikan dan juga ada satu orang yang sangat parah."
JLEBB
Aku tau siapa itu!
Proffesor sial!
"Jadi saya akan mengulang kuis, ini hanya untuk nilai tambahan. Jika ada yang merasa nilainya cukup dan tidak perlu menambah, kalian bisa tunggu di luar."
Ada beberapa mahasiswa yang bersiap-siap keluar, mungkin karena mereka tak sudi ada kuis mendadak yang isinya merupakan soal-soal neraka, dan begitu juga aku. Aku cukup gerah berada di dalam.
"Kakak senior kenapa keluar?" Tanya suara yang tak kusukai itu.
"Saya rasa nilai saya sudah cukup baik, Pak."
"Baik ya? Yah kamu benar, nilai 45 termasuk baik jika kamu yang mendapatkannya," serunya tenang dengan disambut tawa kecil oleh mahasiswa.
OH ASTAGA! Kenapa aku harus lahir di dunia yang sama dengannya!
Mau tak mau aku kembali ke bangkuku dengan wajah yang siapa pun takkan suka melihatnya.
"Tidak jadi keluar? Nilai mu sudah sangat bagus."
Sabar Kiara... Sabar....
"Tidak...Pak,". Jawabku sesopan mungkin walaupun amat enggan.
Proffesor Wiranata tersenyum tipis padaku karena berhasil membuatku mati kutu. Awas saja aku akan membalasnya!
Kalian pasti tak menyangka bahwa aku berani membalasnya. Tentu saja aku akan membalasnya, harga diriku taruhannya!
Semester tiga lalu aku pernah mengempeskan ban mobilnya, mengacak-ngacak dokumennya, bahkan memberi obat sakit perut di makanan yang dipesankan olehnya di kantin, dan itu berhasil membuatnya tak memasuki kelasku -yang membuatku merayakannya dengan berpesta- walaupun akibatnya Pria itu memberikan banyak tugas untuk kami dan KHUSUSNYA UNTUKKU dia memberikan setumpuk makalah tak jelas yang aku sendiri tak mengerti isinya apa. Sepertinya Proffesor Wiranata mengetahui penyebab kesialannya itu karena diriku, akan tetapi karena tak punya bukti dia tak bisa menuduh sembarangan walaupun sebagai balasannya kelasnya dijadikan neraka untukku.
Aku mengerjakan dengan susah payah soal-soal kuis yang diberikannya hingga tak sadar bahwa sudah ada seseorang yang berdiri di sampingku, tanpa melihatnya pun aku tau bahwa Proffesor keji itu yang berada di sampingku.
Mau apa dia?
O..oh aku punya firasat buruk...
firasat buruk ku mengenai orang itu seratus persen selalu benar....
"Kiara Alvansa, tolong bacakan transaksi pada tanggal lima."
Aku menelan ludahku sambil terus berdoa tidak akan ada hal yang buruk, walaupun aku tau doaku tak pernah terkabul di saat-saat seperti ini.
"Dibayar hutang pada toko ABC sebesar 2000 dolar."
"Bacakan jurnalnya."
Uuh ini lah yang dimaksud dengan neraka...
"Kas pada hutang dagang 2000 ribu dollar."
Terdengar bisik-bisik kecil dan seketika aku tau bahwa jawabanku salah, tapi bukan ini kejutan 'menyenangkan' yang akan diberikan dosen itu, tetapi beberapa detik lagi.
"Kas pada hutang dagang ya? Ternyata menurutmu jika kita membayar hutang maka kas kita menjadi bertambah, pintar sekali ya kakak senior kita."
Dan kini tawa geli pun memenuhi kelas membuatku menutup wajahku karena malu
Tuhan... Tolong tenggelamkan Pria ini...
Aku akan membalasnya! Lihat saja aku akan membalasnya!
_________
Aku mengaduk-ngaduk mie ayam ku tanpa semangat, karena dosen tengil itu nafsu makanku menjadi hilang, padahal aku termasuk gadis pecinta makanan.
Aduhh ayolah ide... Kenapa sih tidak datang pada saat yang tepat?
"Kenapa lo? Jelek amat tu muka, serem tau!" Seru Rima, teman baikku yang baru saja datang dan bergabung denganku di kantin.
"Huh lo gak tau sih, perang dingin gue dimulai lagi, tadi pagi pembukaannya... Eh gak, dia bahkan dimulai duluan!!"
Rima hanya menautkan alisnya tak mengerti, sambil memakan mie ayam milikku dia bertanya dengan santainya.
"Cerita yang jelas dong, gak ngerti gue."
"Denger sih denger, tapi jangan ngambil mie gue dong... Nikung melulu, beli sana," ujarku sewot melihat tingkah Rima yang. mempunyai kebiasaan mengambil 'tanpa sengaja' makananku.
"Hehe... Kira lo gak makan, ngapain beli baru aja
sarapan pagi kok,"
Sarapan pagi kan udah 4 jam yang lalu. Dasar anak kos, Ratu hemat!
"Eh, tadi maksud lo soal perang apaan sih? Lo mau buat makalah perang dunia?"
"Ya kali anak manajemen buat makalah sejarah... Susah conect ama lo."
"Bercanda, jadi apaan?"
Aku pun menceritakan kembali kejadian tadi pagi dan keinginanku untuk balas dendam seperti biasa, tentu saja.
"Gila... Ganteng-ganteng tapi sadis ya proffesor lo."
Aku memberikan deathglareku karena masih saja memanggil dosen 'baik hati' itu dengan sebutan dosenku.
"Jadi lo belom ada ide?" Aku menggeleng lemah
"Gimana kalo ban mobilnya dikempesin?"
"Udah biasa, maunya lebih sadis lagi."
"Apa ya...."
Aku dan Rima kini mulai berpikir, tentunya dengan resiko tidak boleh ketahuan. Sangat sulit menjahili dosen apalagi seorang proffesor.
Aku mengedarkan pandanganku dan memperhatikan seorang mahasiswi mengerjakan tugas dikantin -dasar mahasiswi ajaib- tetapi melihat kertas dan pena membuatku mendapatkan sesuatu.
Dan makin lama otakku berpikir membuat senyum kemenangan menghiasi wajahku.
Yes Gotcha!
Proffesor Wiranata yang tampan, tunggu balasan manisku.
Eh tampan? Otakku sudah erorr mungkin....
________
Aku melangkah dan mengarahkan pandanganku kesuluruh penjuru kampus, mencari seseorang dengan gaya sok wibawanya itu. Saat beberapa menit mencari akhirnya kutemukan pria itu sedang berjalan menuju gedung fakultas. Aku tersenyum senang dan berjalan kearahnya untuk menjalankan rencanaku.
Saat langkah ku hampir mendekatinya aku memperhatikan kertas yang bertulisakan
"BERIKAN JALAN BAGI PROFESSOR TAMPAN" Masih aman di atasku
Yah, aku berencana untuk menempel kertas itu di punggungnya.
Cukup sadis bukan ?
Aku memperhatikan proffesor Wiranata sedang berjalan membelakangiku, aku sengaja berjalan dibelakangnya karena ingin "tanpa sengaja menabrak bahunya dan menempelkan kertas itu secepat kilat tanpa disadari.
Oke one two three...
BRUKKKK
Tasku berjatuhan karena tabrakanku yang lumayan keras serta fokusku pada rencanaku.
Dan YEAH BERHASIL.
kertas itu menempel dengan cantik dipunggung lebarnya.
Tapi sepertinya aku harus menunda kesenganku melihat manik matanya yang menatapku tajam.
"Apa yang kamu lakukan.."
"Ah maaf Pak saya tidak sengaja, saya sudah telat Pak,"
Proffesor mendengus kesal dan memandangku dengan pandangan-dasar-maha­siswi-badung- khas dirinya.
"Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan selain melanggar peraturan."
Oh baiklah sepertinya Pria itu sudah mulai mengeluarkan kata-kata "lembut" nya dan dengan terburu-buru aku hanya menjawab
"Oh baiklah pak permisi...."
Aku melangkah meninggalkannya begitu saja tanpa memperdulikannya lagi tapi tentu saja dengan seringaian puas menghiasi wajahku.
Skor 1:1.
Dari kejauhan aku melihat sebagian mahasiswa yang mulai menertawakannya, bahkan proffesor itu pun sepertinya sudah sadar dirinya sebagai pusat perhatian. Aku tak henti-hentinya menahan tawa melihat dirinya yang memasang wajah frustasi dan bingungnya.
Oh bravo.. bravo pembalasan setimpal yang manis itu menyenangkan...!
Dengan tergesa-gesa aku sudah berada didalam bus menuju rumahku, aku tak ingin berurusan lagi dengan dirinya karena aku yakin Proffesor itu pasti sudah mengetahui "perbuatan manis"ku dan tentu saja menyadari siapa pelakunya.
Tetapi itu takkan memberatkanku toh Pria itu tak memiliki bukti. Dia hanya akan membalasnya dengan menambah skor seperti biasa.
Suara sms di ponselku menyentakku, aku segera membuka isinya dan seketika membuat bola mataku membelalak..
From : Dosen Sadis
BERANI SEKALI KAMU MELAKUKAN INI PADA SAYA!!
Tunggu beberapa hari lagi, saya akan membuat kamu akan menyesal telah dilahirkan..!!
O..ohh.. perang ini semakin panas.....
___________
"Segitu saja ya ceritanya Dita," ujar Kiara sambil tersenyum geli melihat reaksi Dita yang seperti diduganya.
"Ya ampun mbak, Dita gak nyangka hubungan awal seunik itu.." ujarnya masih dengan ekspresi konyolnya.
"Yahh kan saya sudah katakan kalau kisah kami sangat unik.."
"Jadi gimana kalian bisa menikah dan sangat harmonis..."
"Saya tak bisa menceritakannya sekarang, Leo sudah bangun dan Pria itu akan uring-uringan kalau mbak belum pulang, jadi tunggu waktu yang tepat ya, sampai jumpa Dita...."
Dita hanya bisa tertawa mengingat cerita itu, yang jelas dia menunggu kelanjutan kisah unik mereka hingga menuju jenjang pernikahan dan saling mencintai.
Hmm... Leo Wiranata dan Kiara Alvansa, benar-benar pasangan yang unik dan lucu...

Semoga bermanfaat Cerpen saya kali ini.....
untuk dapat melihat kumpulan cerpen saya lainnya silahkan lihat pada kumpulan cerpen hanya di Esswe Zone 


ME VS PROFFESOR | Kumpulan Cerpen Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Esswe Zone

No comments:

Post a Comment