Kumpulan Cerpen | Ibu aku tidak Merokok

Hai sobat esswe jumpa lagi dengan ane.....
kali ini ane mencoba memposting Cerpen, semoga cerpen ini bisa menghibur sobat esswe dalam penatnya.... ataupun bisa menjadi sebuah kisah inspirasi.

Judul cepen yang kali ini ane posting adalah

IBu aku tidak merokok

rokokAku berhenti berlari, & dengan cepat tubuhku merosot diatas tanah bagaikan sekarung padi yang dijatuhkan dari pundak petani. Ini perhentianku yang kedua kalinya,sebelumnya aku sudah berhenti di lereng bukit,bahkan aku sudah mengisi perutku dengan air di pancuran milik warga sekitar,tapi itu seolah sama sekali tidak berpengaruh,malah hanya menambah beban & menyusahkan perutku saja, bukan melenyapkan dehidrasi atau menambah asupan energi bagiku.
Aku mengusap dahi & seketika tanganku lengket bagai dicelupkan kedalam minyak kelapa,keringat bercucuran ke mana2, dadaku serasa dijejali kulit duren,sesak & sakit,nafasku sudah ibarat karet celana kolor usang,kendor tak bertenaga.
Dadaku naik turun seiring dengan dengusan nafasku yang tak beraturan,sesekali aku terbatuk & tersenggal karena tidak bisa mengimbangi ritme nafasku sendiri.
"Ada apa ini? apa
yang terjadi padaku?"
Aku menggosok rambutku yang basah oleh keringat,mengacak acaknya tidak jelas,membuat gaya rambutku menjadi berantakan.
"Ahh entahlah,. tapi yang jelas sekarang aku harus segera sampai ke puncak bukit,menjemput ibu pulang tapi perasaanku tidak enak." gumamku pada diri sendiri.
Akhirnya setelah sedikit berdamai dengan rasa penasaranku terhadap penurunan kondisi fisikku yang anjlok serta menyudahi waktu istirahat dua organ didalam dada & sepasang kakiku. Aku bangkit berdiri,melanjutkan perjalanan,tapi tidak langsung berlari,hanya berjalan, "menghemat tenaga." pikirku. Lagi pula aku khawatir paru2 & jantungku akan kaget jika kembali kupacu dengan kekuatan penuh,tidak terbayang bagaimana jadinya jika aku harus tepar di tengah hutan seperti ini?
Sementara tubuhku tengah berusaha mendaki bukit ditengah hutan yang lebat,pikiranku tengah mengudara jauh kebelakang,menyetel ulang rekaman peristiwa beberapa jam yang lalu.
Hari itu masih cukup gelap,tepatnya masih terlalu pagi,aku sudah harus berdebat dengan ibuku sebelum berangkat sekolah hanya karena desas desus para tetangga yang membicarakan tingkah aku & teman2kt beberapa waktu lalu,saat kami berlibur & menginap di rumah kosong milik salah satu temanku.
"Ibu mendengar dari para tetangga kalau teman2mu itu merokok." Tukas ibuku setengah curiga & menuduh padaku.
"Itukan temanku bu,. aku sama sekali tidak merokok." bantahku.
"Ya ibu tahu tapi ibu khawatir kalau kamu ikut ikutan terbawa mereka." timbal ibuku.
mendengar itu aku sedikit kesal,ibu lebih percaya omongan orang2 yang belum tentu seratus persen kebenarannya dibandingkan anaknya sendiri, yang jangankan menyesap rokok merk rokoknya saja tidak semuanya hafal, meski tahu sebagian,itupun dari iklan di televisi yang tayang setiap hari.
"Ibu harap, kamu jangan sekali kali menjadi perokok,lihat pamanmu, ia tidak merokok, & sekarang sukses di jakarta" oceh ibu belum selesai dengan kecurigaannya.
"Tidak bu., sungguh ! aku tidak merokok" jawabku setengah kesal.
Sesaat suasana menghening, ibu tidak lagi menghujaniku dengan kecurigaan. Aku sempat lega & tenang sampai akhirnya semuanya kembali menguap oleh ucapan ibu yang seolah tak lagi percaya padaku.
"Dengar jika kamu ingin bersekolah,ibu harap kamu tidak merokok atau pacaran, ibu & ayahmu menyekolahkanmu supaya kamu jadi orang sukses."
"Jika kamu merokok atau pacaran,berarti kamu telah mengecewakan ibu & ayah."
Mungkin bagi orang yang dalam keadaan normal,tenang & tidak dikuasai oleh kekesalan serta emosi, untaian kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa,wejangan dari seorang ibu kepada anaknya. Tapi ditelingaku lain terjemahannya,ibu seperti tidak percaya lagi padaku,aku seolah maling yang tertangkap basah & mencari pembelaan.
" ibu ingin.., "
" bu aku sungguh tidak merokok bu ! " sahutku memotong pembicaraan ibu.
" lagipula diluar sana banyak anak anak sekolah yang merokok atau pacaran, tapi mereka aman aman saja, mereka masih normal bersekolah, mereka bahkan tidak di teriaki oleh orang tua mereka,.& lebih dari itu mereka juga sukses,. Aku cape mendengar ibu mengeluh soal itu terus ! " tuturku bernada tinggi. Aku sempat menyesal berkata demikian, selain karena mungkin akan menyakiti hati ibu, tapi juga pernyataanku barusan membawa pada pan&gan kalau aku seolah olah memang telah merokok.
" Jujur saja bu, sebenarnya aku bahkan iri dengan mereka,." Tukasku sambil berlalu dari ruangan itu, meninggalkan ibu sendirian disana. Aku terpaksa berangkat sekolah lebih awal, tanpa pamit mencium tangan ibu atau mengucapkan salam pa&ya.
*******
" hari sudah sore tapi ibu belum juga turun dari bukit, apa pekerjaannya belum selesai ? " pikirku.
Aku kembali berhenti setelah sekitar lima menit berlari & lima menit berjalan biasa sebelumnya. Dadaku naik turun dengan ritme yang cepat, nafasku sesak, berat, panas & menyiksa.
Persendianku mulai menunjukan tanda tanda protes mereka dalam wujud pegal & sakit. Kepalaku pun pening & berat, tapi tidak ada yang lebih menyiksa dibandingkan sesak & sakitnya dadaku ketika menghela udara.
Ini aneh padahal sebelumnya aku bisa berlari seperempat jam tanpa henti dengan kecepatan se&g. Tapi saat ini,.
Saat ini semuanya terasa berbeda
Aku seperti orang yang baru belajar berlari.
Lalu terbayang di kepalaku peristiwa beberapa saat yang lalu usai pulang sekolah, kejadian yang membuat aku menyesal & kesalahan besarku yang melanggar nasehat ibuku. Karena dorongan penasaran & olok olok serta ejekan teman temanku akhirnya aku luluh untuk mecoba menghisap beberapa batang rokok yang sengaja disodorkan padaku,. Hal itu juga karena bentuk prustasiku yang tidak lagi dipercayai oleh ibuku.
" cobalah sedikit saja, satu hisapan saja & itu tidak akan membunuhmu. " rayu arman ketika jami tengah berkumpul di sebuah warung dekat sekolah.
" tidak,. aku tidak mau " tolakku sedikit sewot.
" yah payah,. Masa laki laki tidak merokok. " sahut heru.
" begini saja, lebih baik besok kamu pake rok saja. " celetuk dodi, & tawa ejekan yang dipaksakan pun meledak diantara mereka.
" hahaha.., ya ide bagus tuh, sekalian pake jilbab & kumpul sama anak perempuan. " timpal roni.
" hahaha bener banget tuh,. Maennya lompat tali sama boneka berbi. " soni ikut ikutan menambah penderitaanku.
Akhirnya pendirianku luluh lantah oleh gengsi & malu, aku goyah oleh rayuan rekan rekanku sendiri, aku tidak terima dikatakan demikian, imbasnya kemarahan & pembuktian yang coba ku tunjukan pada teman temanku bahwa aku adalah laki laki membuat aku mampu menghisap tiga perempat lusin rokok. Pencapaian yang fantastis bagi seseorang yang baru merokok. Aku bahkan sampai batuk terpingkal pingklal & nyaris muntah karena saking terlalu banyaknya zat nikotin & tar yang ku hisap.
" Astagfirullah, rupanya itu yang membuat aku jadi begini, racun itu yang membuat aku jadi payah seperti ini. " kataku kepada diri sendiri.
Sambil terengah engah aku kembali meman&g ke arah bukit, betapa terkejutnya, aku melihat asap, bukan asap yang berasal dari bayangan yang kupikirkan ketika merokok di warung dekat sekolah tadi siang.
Asap ini nyata, asap hitam yang bergemul membumbung tinggi di atas bukit, menghalangi sebagian muka peman&gan langit yang terik & panas.
Apapun itu,. Ada sesuatu yang terbakar disana & skalanya pasti sangat besar.
Aku terdiam sejenak.
" Astagfirullah, itu kebakaran hutan.! "
Dengan hati yang khawatir & panik aku berlari menembus hutan, berusaha mencapai bukit yang dilalap api yang mulai meluas. Pohon cengkeh & kopi di sampingku menjadi hablur, akibat ku lalui dengan cepat. Tubuhku mulai melemah, nafasku semakin berat, tapi fokusku tidak terganggu, tetap tertuju pada satu hal..,,, ibu..!
Aku tidak begitu yakin dimana titik kebakaran itu, yang jelas asap ada dimana mana. & yang membuatku semakin panik aku menuju ke arah kupulan asap itu muncul pertama kali., arah yang sama dengan posisi bukit yang ku tuju untuk menjemput ibu pulang.
Aku menembus kebun cengkeh yang dilalap api,hawa panas mulai terasa menjilati kulitku,suara kobaran api yang memakan daun & ranting pohon serta bunyi batang pohon yang patah perlahan membuatku bergidik. "aku bisa terpanggang hidup hidup disini,aku harus cepat."
Aku sudah berada persis di titik kebakaran,di sekelilingku api berkobar & terus menjalar,hembusan angin membantunya memperluas kekuasaan, mataku perih oleh asap,sehingga penglihatanku tidak begitu bagus,kupan&gi sekitar dengan panik & takut.
"Bu... ibu.. Ibu dimana?" teriaku sekencang kencangnya.
"Bu... bu.. ibu,. !"
masih tak ada jawaban, aku mengucek mataku berharap pan&ganku lebih baik.
Tiba tiba kulihat sesosok tubuh tergeletak di tanah tidak jauh di depanku, aku terperanjat, sementara disampingnya terbentang sebatang pohon cengkeh yang tumbang setengah hangus terbakar & sepertinya menimpa kaki orang itu.
Aku mendekat untuk memastikan, & kakiku lemas seketika saat tahu siapa sosok orang yang tergeletak tak sadarkan diri itu.
Tidak salah lagi itu ibu...!
Aku menghambur menghampirinya, & segera merangkul tubuh kecilnya. " bu... ibu... ini aku bu..! " " bangun bu.. bangun... " hatiku bergetar karena panik & takut, aku mengguncangkan tubuh ibu tapi tidak ada tanda tanda kesadaran darinya, aku menggoyangkan tubuhnya lagi tapi tetap tak juga sadar. kulihat kaki kanannya terhimpit batang pohon yang cukup besar, sekitar satu setengah kali ukuran pinggangku, daun & rantingnya sudah menjadi abu, sementara separuh batang pohon itu sudah hangus sebagian. kucoba mengangkat batang pohon itu tapi sia sia, terlalu berat karena kondisi & kesadaranku juga mulai melemah. tubuhku sudah dibanjiri keringat,mataku benar benar perih, & nafasku lebih sesak daripada usai berlari mengelilingi lapangan sepakbola lima putaran penuh. aku kembali beralih kepada ibuku, aku merangkulnya mengguncangkan tubuhnya, berusaha membangunkannya,. usahaku membuahkan hasil, setelah kulihat ibu bereaksi dengan terbatuk, matanya terbuka sementara nafasnya masih kesulitan. " bu....bu.... ibu tidak apa apa ? " tidak terasa air mataku tumpah & mengalir berjatuhan, kupeluk tubuh ibuku erat. " mir amir..... kamu disini nak? " tanya ibuku lemah. " iya bu... aku disini, ibu jangan takut, aku akan menyelamatkan ibu. " jawabku dengan isak yang tidak berhenti. ibu kembali terbatuk, pernafasannya memburuk, aku harus segera membawanya keluar dari sini. " hhhh... ibu.. mencoba lari hhh tapi api sudah hh sangathhh besar...... " " ibu jangan khawatir, akan kukeluarkan ibu dari sini. " aku mengusap pipi & bangkit, kucoba lagi memindahkan batang pohon itu, tetap tidak kuat bahkan menggesernya pun aku tidak mampu. sementara api semakin membesar & meluas, daun cengkeh yang kering & ada banyak ranting pohon yang mudah terbakar membuat api dengan cepat melalap semuanya, belum lagi semak belukar yang kering & rumput ilalang. hanya perlu tiupan angin sedikit lagi maka tempat ini akan benar benar hangus. aku kembali mencoba mengangkat batang pohon itu dari kaki ibuku, lagi lagi percuma, nafasku mulai lagi berat & sakit seiring dengan oksigen & udara segar yang menipis, aku mulai kesal & putus asa. '' nak pergilah cari bantuan... ibu hhh akan baik baik saja hhh... jangan cemaskan ibu. " lirih ibu. mendengar ibu, hatiku bergetar, tidak mungkin aku harus meninggalkan ibu. aku kembali mendekat ke arah ibu " tidak bu tidak,.... aku tidak mau meninggalkan ibu. " jawabku dengan kembali berurai air mata.
" pergilah nak, jangan cemaskan ibu. " tatap ibu dengan mata nanar, lalu butiran bening membasahi pipinya.
Hatiku kembali bergetar,kupeluk tubuh ibu erat, air mataku berjatuhan meninggalkan sumbernya.
" tidak bu ., tidak.. aku akan tetap disini " peluku semakin erat.
" ibu mohon nak,.. pergilah, ibu akan baik baik saja. " pinta ibu berbohong.
Aku diam, tidak menyela ibu lagi hatiku sakit & pilu karena harus meninggalkan ibu.
"Aku minta maaf bu, aku telah ingkar & berbohong pada ibu pada ibu, pulang sekolah tadi aku merokok bersama teman temanku. & karena itu aku jadi terlambat kemari untuk menyelamatkan ibu. Aku minta maaf bu,. Semua ini salahku. " tuturku.
Ibu melepaskan pelukannya, lalu tangannya bergerak mengelus pipiku, kurasakan kasih sayang & kehangatan ibu tumpah padaku. Ibu meman&gku lekat lekat, lalu sedikit mengangguk & berusaha membuat sebuah senyum dibibirnya sekalipun dalam kondisi & tempat yang tidak tepat.
"Pergilah nak... ibu menyayangimu. " lirih ibu. Untuk yang ke sekian puluh kalinya pipiku basah oleh air mata baru.
Api semakin berkobar dahsyat, tak lama lagi pasti akan sampai kemari.
" aku harus cepat " pikirku panik bercampur bimbang. Dengan setengah terpaksa aku segera berdiri.
" aku akan segera kembali bu. " aku segera bergegas pergi. Mencoba mencari bantuan orang orang.
Tapi belum sampai dua puluh langkah aku berlari aku berhenti, lalu entah atas dasar apa aku tiba tiba berbalik & kembali pada ibu. Aku langsung memeluknya & tangisku benar benar tumpah sekarang.
"Aku tidak bisa meninggalkan ibu, aku menyayangi ibu. Apapun yang terjadi takkan kutinggalkan ibu disini. " air mataku tak berhenti meleleh, sementara pelukanku semakin erat. Ibupun menangis dipelukanku, isaknya menggetarkan hatiku. Aku bangun & segera mendekati kaki ibu yang tertindih batang pohon yang menahanya. Kucoba cara lain selain selain mengangkat batang pohon itu, aku menggali tanah disekitar kaki ibu dengan jari & kukuku. Sedikit sulit karena tekstur tanah yang keras & berbatu, tapi cukup berhasil aku membuat sedikit coak disana. Aku semakin bersemangat menggali, terus berusaha meskipun panas yang semakin menggila, dada yang berat & jari jariku yang perih karena lecet.
Akhirnya aku berhasil membuat lubang &gkal pada tanah disekitar kaki ibuku, & itu bisa memberi ruang bagi kaki ibu untuk keluar darisana.
"Alhamdulillah.." gumamku.
Aku menarik kaki ibu keluar, kudengar ibu merintih kesakitan, tapi kulihat kondisinya nyaris tak sadarkan diri.
Aku mengangkat tubuh ibu lalu kugendong di punggungku. Fisik & kesadaranku sudah kacau, sementara situasi tak lagi mau menunggu untuk aku supaya bisa rehat sejenak melepas sesak & lelah,atau terbujur melepas kesadaran. Maka dengan sisa sisa kekuatan & kesadaran yang ku miliki aku segera membawa ibu pergi keluar darisana.
"Bertahanlah bu."
*****
Aku masih tertidur sambil duduk disamping ibu ketika beliau sadar usai dua hari lamanya pingsan. Tangan yang hangat penuh kasih sayang mengelus rambut & wajahku.
Aku segera terjaga & mengangkat kepalaku dari tubuh ibu. Kulihat dihadapanku sosok lemah bertubuh kecil & kering meman&gku haru. Matanya nanar & wajahnya pucat namun penuh dengan kelembutan & kasih sayang.
Ibu mencoba mengucapkan sesuatu namun terhalang mangkuk oksigen yang membekap mulut serta hidungnya, kubantu melepaskanya sejenak.
" nak kamu baik baik saja?" Tanya ibu lemah,nyaris tak bisa kudengar.
" aku tidak apa apa bu, orang orang menemukan kita usai aku membawa ibu menjauh dari api. Lalu bersama ayah & kakak mereka membawa kita ke rumah sakit. "
" sekali lagi aku minta maaf bu, aku sudah ingkar & berbohong pada ibu, karena aku telah merokok bersama teman teman, aku janji pada ibu tidak akan merokok. " aku kembali memeluk ibu.
" ibu bangga kepadamu nak, ibu menyayangimu. " tukas ibu sambil mencium ubun ubunku.
" aku juga menyayangi ibu." Ku peluk ibu erat
"Nak bolehkah ibu bertanya padamu satu hal? " tanya ibu tiba2.
" tentu bu,katakan saja "
" tapi kamu jangan marah yah."
" tidak bu,tidak akan lagi."
"Apakah kamu punya pacar nak? "
Aku tersenyum mendengar pertanyaan polos ibu.
" ibu adalah perempuan nomer satu bagiku,. Yang menyayangiku dengan tulus & sepenuh hati. Jadi menurut ibu saat ini apa aku perlu seorang pacar untuk menambah pasokan kasih sayang lagi? Sementara kasih sayang yang ibu berikan padaku itu semua lebih dari cukup. "
Mendengar jawabanku ibu hanya tersenyum & kembali mencium ubun ubunku.
*****
Setelah kejadian itu aku tidak pernah mau menjadi perokok,karena aku lebih memilih ibu.
& usut punya usut, rupanya penyebab terjadinya kebakaran itu adalah puntung rokok yang dibuang orang sembarangan di hutan.
Fakta itu membuat aku semakin membenci rokok.
& soal pacaran, insyaAllah aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya sebelum aku menikah. Karena itu janjiku pada ibu,janji pada perempuan nomer satu bagiku.
SELESAI


Sekian Cerpen dari ane.
Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel pada kumpulan cerpen.

Bila berkenan Sobat Esswe Zone bisa membaca artikel yang lainnya bayi lucu, cerita lucu, contoh cerpen, gambar bayi lucu, gambar romantis, history, kartun lucu, kumpulan cerpen, sms lucu, video lucu banget, zombie
Kumpulan Cerpen | Ibu aku tidak Merokok Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Esswe Zone

No comments:

Post a Comment